Sipilis pada wanita juga bisa terjadi pada ibu hamil. Hal ini tentunya bukan saja membahayakan sang ibu, namun juga bayi yang sedang dikandungnya. Penyebab dari sipilis ini adalah bakteri treponema pallidum yang bisa menular melalui kontak seksual. Namun sipilis pada ibu hamil juga bisa menularkan penyakit tersebut pada bayi yang sedang dikandung atau disebut sipilis kongenital.

Penyakit sipilis sendiri sudah mencapai 5000 sampai 10000 kasus per tahun. Walaupun tiga dari lima kasus adalah terjadi pada pria. Penyakit ini juga termasuk penyakit menular seksual yang berbahaya. Karena jika diabaikan, maka sipilis bisa menyebabkan kerusakan organ tubuh. Untuk itu, ketahui beberapa hal terkait sipilis pada ibu hamil berikut ini.

Gejala

Umumnya masa inkubasi penyakit ini terjadi antara 10 sampai 90 hari, dengan gejala yang berbeda pada tiap tahapnya. Pada tahap 1, akan terjadi 9 sampai 90 hari setelah seseorang terinfeksi sipilis. Pada saat ini akan muncul luka kecil, bundar, dan tidak terasa sakit yang muncul pada bagian kulit yang melakukan kontak langsung dengan penderita, misalnya area genital, anus ataupun mulut. Walaupun tidak diobati, gejala pada tahap ini bisa sembuh sendiri, namun bakteri tetap masih ada di dalam tubuh.

Tahap dua biasanya terjadi 1 sampai 2 bulan setelahnya. Pada saat ini penderita akan merasakan sakit tenggorokan, sakit di mulut bagian dalam, nyeri otot, demam, lemah, kerontokan dan juga muncul bintil. Setelah beberapa bulan gejala ini akan hilang. Dan pada tahap 3, atau yang biasa disebut tahap akhir penyakit sipilis, biasanya akan timbul kerusakan organ di tubuh. Karena hal tersebut, penderita bisa saja mengalami kebutaan, tuli, penyakit jantung, kerusakan hati, lumpuh ataupun gangguan jiwa.

Penularan

Penularan penyakit ini hanya bisa terjadi ketika seseorang mengalami kontak langsung dengan kulit penderita yang sedang terinfeksi. Ketika kontak terjadi pada lesi atau luka miliki penderita, maka bakteri bisa berpindah pada tubuh orang lain. Biasanya hal ini terjadi ketika melakukan hubungan seksual. Dan umumnya penularan akan sangat mudah terjadi pada tahap 1 dan juga 2.

Sipilis Pada Ibu Hamil

Ibu hamil yang tidak tau jika terinfeksi raja singa, ataupun mengabaikan infeksi yang terjadi, maka bisa berpengaruh buruk untuk janin yang dikandung. Janin bisa mengalami kematian, partus immaturus, partus prematurus, dan juga sipilis kongenital.

Biasanya pemeriksaan sipilis pada ibu hamil akan dilakukan melalui pemeriksaan VDRL (Veneral Diseases Research Laboratory), karena dikhawatirkan sipilis akan berbahaya bagi janin. Setelah melakukan pengobatan, ibu hamil akan disarankan melakukan evaluasi dengan tes VDRL ini pada 1, 3 6, dan 12 bulan setelah pengobatan selesai dilakukan.

Pengobatan

Pada ibu hamil, sipilis akan diobati dengan pemberian penisilin yang disuntikkan cukup 1 kali, bila dirasa memang sudah cukup kuat. Namun adapula penderita yang membutuhkan lebih dari 1 kali injeksi penisilin ini. Dokter juga akan menyarankan melakukan tes darah sekitar satu tahun setelah pengobatan, untuk memastikan apakah bakteri telah hilang. Penderita yang memiliki alergi pada penisilin bisa diganti dengan jenis antibiotik yang lain.

Untuk mengantisipasi kemungkinan terinfeksi sipilis pada ibu hamil, maka ibu hamil disarankan menjalani pemeriksaan antenatal, sebanyak minimal 4 kali selama masa kehamilan. Hal ini dilakukan untuk mengetahui atau mendeteksi secara dini apakah ada komplikasi yang terjadi selama kehamilan, karena akan sangat berpengaruh pada perkembangan dan kesehatan janin yang sedang dikandung.